-
Tampilkan postingan dengan label lukisan. Tampilkan semua postingan
Lukisan Affandi Burung Jatayu
Lukisan Affandi kali ini yang saya ingin berbagi dengan anda berjudul "burung jatayu". Jatayu adalah sebuah kisah dalam cerita pewayangan jawa, merupakan nama sebuah burung yang setia dalam pengabdian kepada sang tuannya "Ramayana", kehebatan, kesetiaan dan pengabdian Jatayu terkenal pada saat pertarunganya melawan Rahwana, dalam menyelamatkan Dewi Shinta sebagai Istri Ramayana yang akan diculik oleh Rahwana seorang Raja angkara murka, Jatayu dalam hal ini rela mengorbankan jiwa raganya demi menyelamatkan istri ramayana Dewi Shinta, hingga akhirnya Jatayu gugur dalam pertarungan tersebut melawan Rahwana.
Cerita dari pengabdian dan kesetiaan burung Jatayu tersebut diatas telah menginspirasi Seniman lukis terbesar indonesia Affandi untuk menciptakan sebuah karya lukisan diatas kanvas yang bertema "Burung Jatayu" sebuah karya lukisan plototan tube dengan gaya ekspresionis yang memukau, warna-warna yang cerah dan berani, sesuai dengan keberanian sang Jatayu melawan angkara murka rahwana sampai titik darah penghabisan.
Disini kita bisa mengambil makna dari lukisan affandi burung jatayu bahwa dalam mengarungi hidup ini kita harus berani dan berbulat tekad untuk melawan setiap kejahatan dan angkara murka meskipun nyawa sebagai taruhannya. disamping itu dalam hidup kita harus mempunyai pendirian yang kokoh kepada kesetiaan yang sudah kita pilih sebagai pedoman dalam menjalani hidup ini.
Cerita dari pengabdian dan kesetiaan burung Jatayu tersebut diatas telah menginspirasi Seniman lukis terbesar indonesia Affandi untuk menciptakan sebuah karya lukisan diatas kanvas yang bertema "Burung Jatayu" sebuah karya lukisan plototan tube dengan gaya ekspresionis yang memukau, warna-warna yang cerah dan berani, sesuai dengan keberanian sang Jatayu melawan angkara murka rahwana sampai titik darah penghabisan.
Disini kita bisa mengambil makna dari lukisan affandi burung jatayu bahwa dalam mengarungi hidup ini kita harus berani dan berbulat tekad untuk melawan setiap kejahatan dan angkara murka meskipun nyawa sebagai taruhannya. disamping itu dalam hidup kita harus mempunyai pendirian yang kokoh kepada kesetiaan yang sudah kita pilih sebagai pedoman dalam menjalani hidup ini.
Tema Lukisan : Burung Jatayu
Pelukis : Affandi
Ukuran : 90cm x 70cm
Media : Oil on Canvas
Tahun pembuatan : 1971
Gambar Lukisan Karya Seni Barli Sasmitawinata
![]() |
| Penari Kipas - Gambar Lukisan Barli Sasmitawinata |
Kali ini admin blog senirupa akan membagikan Gambar Lukisan Karya Seni Barli Sasmitawinata yang merupakan salah satu tokoh pelukis Realis terkenal dari Indonesia. Barli Sasmitawinata mulai menekuni dunia seni lukis sekitar tahun 1930-an dan dia merupakan bagian dari "Kelompok Lima" yang beranggotakan beberapa seniman lukis besar dari indonesia seperti Affandi, Hendra Gunawan, Sudarso, dan Wahdi. Hubungan di antara kelima anggota kelompok akhirnya terbentuk menjadi seperti saudara saja. Kalau melukis kemana-mana selalu bersama-sama. Termasuk kesempatan perjalanan Barli hingga ke Bali.
Biografi dan Perjalanan Karier :
Barli Sasmitawinata sendiri lahir di Bandung, pada tanggal 18 Maret 1921 dan meninggal dunia juga di Bandung pada tanggal 8 Februari 2007 tepatnya berusia 85 tahun. Awalnya ia menjadi pelukis atas permintaan kakak iparnya pada tahun 1935 agar ia memulai belajar melukis di studio milik Jos Pluimentz, pelukis asal Belgia yang tinggal di Bandung. Di sana ia banyak belajar melukis alam benda dia adalah satu-satunya murid pribumi di studio tersebut. Di studio itu Barli banyak belajar mengenal persyaratan dalam membuat Karya Seni Lukis. Barli dilatih secara intensif melihat objek karena realistik masih sangat populer ketika itu. Pluimentz sang guru, pun selalu berkata, cara melihat seniman dan orang biasa harus berbeda. Orang biasa tidak mampu melihat aspek artistik sesuatu benda sebagaimana seniman.Barli di kemudian hari belajar kepada Luigi Nobili, pelukis asal Italia. Di studio ini pula Barli mulai berkenalan dengan Affandi Pelukis terkenal Ekspressionis, yang waktu itu masih mencari uang dengan menjadi model bagi Luigi. Di studio milik Luigi Nobilo itu diam-diam Affandi ikut belajar melukis. Setelah berguru pada pelukis Italia Luigi Nobili yang juga dari Bandung, pada tahun 1950-an ia lalu melanjutkan pendidikan seni rupa di Eropa. Latar belakang pendidikan tingginya di Belanda dan Perancis (Académie de la Grande Chaumière, Paris, 1950 dan Rijksakademie van beeldende kunsten, Amsterdam, 1956) terwakili dalam karya-karyanya yang menunjukkan penguasaan teknik menggambar anatomi tubuh secara rinci dan detail.
Perjalanan karir lukis Barli dimulai sejak tahun 1930-an sebagai ilustrator terkenal di Balai Pustaka, Jakarta. Dia juga dipakai sebagai ilustrator untuk beberapa koran yang terbit di Bandung. Keterampilan tersebut masih berlanjut di tahun 1950-an saat dia sudah melangglang buana ke mancanegara. Yakni, ketika Barli diangkat menjadi ilustrator pada majalah De Moderne Boekhandel di Amsterdam, dan majalah Der Lichtenbogen di Recklinghausen, Jerman. Barli adalah contoh pelukis dan guru yang mendapatkan pendidikan secara baik sejak usia remaja sampai kemudian dia berkesempatan belajar ke Perancis dan Belanda.
Kesempatan Barli studi sekaligus berkiprah di benua Eropa berawal di tahun 1950 tatklala dia mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Belanda untuk belajar di Academie Grande de la Chaumiere, Paris, Perancis. Barli masih meneruskan studi di Rijksacademie voor Beeldende Kunsten, Amsterdam, Belanda, sampai tahun 1956. Karena kiprah kepelukisannya yang sedemikian panjang, kritikus seni Jim Supangkat dalam bukunya "Titik Sambung" menempatkan Barli Sasmitawinata sebagai 'titik sambung' dua gugus perkembangan seni lukis Indonesia: seni lukis masa kolonial dan seni lukis modern Indonesia.
Di Eropa Barli memperoleh banyak prinsip-prinsip melukis anatomi secara intensif. Pelajaran anatomi, untuk pelukis sangat melihat otot-otot yang ada di luar bukan otot yang di dalam. Pernah, selama dua tahun di Eropa Barli setiap dua jam dalam sehari hanya menggambar nude (orang telanjang) saja, sesuatu yang tidak pernah dipersoalkan pantas atau tidak di sana sebab jika untuk kepentingan akademis hal itu dianggap biasa.
Barli Sasmitawinata juga dikenal sebagai orang yang menekankan pentingnya pendidikan seni rupa. Tahun 1948 ia mendirikan studio Jiwa Mukti bersama Karnedi dan Sartono. Setelah menyelesaikan pendidikan di luar negeri, ia mendirikan Sanggar Rangga Gempol di kawasan Dago, Bandung pada tahun 1958. Ia pernah mengajar seni lukis di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan adalah salah seorang perintis jurusan seni rupa di Institut Kejuruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung (kini bernama Universitas Pendidikan Indonesia) pada tahun 1961. Barli lalu kemudian lebih banyak mengajar murid secara informal di sanggar. Tahun 1992 ia mendirikan Museum Barli Bandung.
Antara murid-murid yang pernah dididiknya adalah Popo Iskandar, Srihadi Soedarsono, Yusuf Affendi, AD Pirous, Anton Huang, R Rudiyat Martadiraja, Chusin Setiadikara, Sam Bimbo, Rudi Pranajaya. Barli adalah pelukis sekaligus guru. Sudah banyak mahasiswa yang dia ajar di Institut Teknologi Bandung (ITB) maupun murid yang dia bimbing di sanggar seni miliknya, tumbuh menjadi seniman mandiri. Beberapa di antara mantan mahasiswa dan murid itu terkadang ada yang mengabaikan Barli sebagai guru. Namun, yang membanggakan hati dia, tokoh semacam AD Pirous tetap mengakui Barli sebagai salah seorang guru.
Selain AD Pirous, ada pula beberapa muridnya yang kini dikenang sebagai pelukis yang berkarakter, seperti (almarhum) Huang Fong. Atau, Chusin Setiadikara yang tetap memelihara bekal seni realistiknya tetapi menempuh jalan sulit untuk membuatnya menjadi seni yang terus bisa bermakna di tengah percaturan berbagai gaya dan kecenderungan seni yang baru.
Barli berperan cukup besar menularkan ilmu kepada murid-muridnya. Entah di kampusnya mengajar ITB Bandung maupun di sanggar seninya. Barli adalah contoh pelukis dan guru yang mendapatkan pendidikan secara baik sejak usia remaja sampai kemudian belajar seni lukis ke Perancis hingga Belanda.
Barli menyebutkan, seseorang lulusan dari akademis menggambar orang seharusnya pasti bisa sebab penguasaan teknis akan merangsang inspirasi. Dia mencontohkan pengalaman saat belajar naik sepeda sulit sekali sebab salah sedikit saja pasti jatuh. Namun saat sudah menguasai teknis bersepeda sesorang bisa terus mengayuh sambil pikiran bisa kemana-mana. Melukis pun demikian, jika sudah mengetahui teknisnya maka adalah pikiran dan perasaan pelukis yang jalan.
Walau pelukis realistik Barli mengaku cukup mengerti abstrak sebab menurutnya seni memang abstrak. Seni adalah nilai. Setiap kali melihat karya yang realistik Barli justru tertarik pada segi-segi abstraksinya. Seperti segi-segi penempatan komposisi yang abstrak yang tidak bisa dijelaskan oleh pelukisnya sendiri.
Barli menyebutkan pula, pelukis yang menggambar realistik sesungguhnya sedang melukiskan meaning. Dicontohkannya lagi, kalau melihat seorang kakek maka dia akan tertarik pada umurnya, kemanusiaannya. Sehingga pastilah dia akan melukiskannya secara realistik sebab soal umur tidak bisa dilukiskan dengan abstrak. Menggambarkan penderitaan manusia lebih bisa dilukiskan dengan cara realistik daripada secara abstrak.
Dijelaskan oleh Jim, di satu sisi Barli dapat dilihat sebagai meneruskan perkembangan seni lukis masa kolonial. Tetapi di sisi lain Barli merupakan bagian dari pertumbuhan seni lukis modern Indonesia yang menentang seni lukis masa kolonial itu sendiri.
Barli di tahun 1948 pernah mendirikan Sanggar Seni Rupa Jiwa Mukti. Lalu, sepulang dari Eropa, di tahun 1958 Barli kembali mendirikan studio Rangga Gempol. Sekarang Barli memiliki Bale Seni Barli di Padalarang. Barli menyebutkan sebuah cita-cita yakni ingin punya murid yang tidak saja pandai menggambar tetapi bisa hidup bersama dengan yang lain.
Barli Sasmitawinata semasa hidupnya memiliki dua istri, Barli pertamakali menikahi (almarhumah) Atikah Basari di Pager Ageung tahun 1946 pada saat masih berada di dalam pengungsian karena perang. Pernikahan pertama itu dikaruniai dua orang anak bernama Agung Wiwekakaputera dan Nirwati Chandra Dewi. kemudian istri pertama Barli meninggal pada tahun 1991. Satu tahun kemudian Barli lalu kembali menikah saat usia sudah 71 tahun, kali itu dengan janda almarhum D Mawardi yang bernama Nakisbandiah yang masih tetap setia mendampingi hidupnya. Hasil pernikahan Nakisbandiah sebelumnya dengan (almarhum) D Mawardi dikaruniai empat orang putri, yaitu Kartini, Sartika, Mia Meutia (meninggal tahun 1977), dan Indira. Maka, secara keseluruhan keluarga Barli memiliki 15 cucu dan enam orang buyut.
Penghargaan :
Gambar Lukisan Karya Seni Barli Sasmitawinata pernah dipamerkan baik di dalam maupun luar negeri. Koleksinya juga dipamerkan di Museum Barli Bandung. Pada tahun 2000, ia menerima penghargaan Satyalancana Kebudayaan dari presiden.
Pemerintah RI tampak sangat peduli atas perjalanan karir maestro seni lukis realistik Indonesia ini. Bertepatan dengan hari lahirnya pada 18 Maret 2004 beberapa karya lukisnya dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta. Termasuk dipamerkan sebuah lukisan yang Barli selesaikan hanya beberapa hari sebelum ulang tahunnya ke-83, berukuran lebih dari dua meter kali dua meter. Pembukaan pameran dilakukan langsung oleh Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata, I Gede Ardika, berlangsung sejak 18 hingga 31 Maret 2004. Bersamaan perayaan ulang tahun ke-83 itu diluncurkan pula sebuah buku karangan Nakisbandiah, istri kedua Barli setelah istri pertama meninggal dunia 11 Juli 1991, berjudul "Kehidupanku Bersama Barli".
Bahkan, PT Pos Indonesia turut menunjukkan penghargaan yang sangat tinggi kepada seniman besar kelahiran Bandung itu. Pos Indonesia khusus menerbitkan prangko yang bergambar reproduksi lukisan Potret Diri, sebuah lukisan terkenal yang Barli buat di tahun 1974.
Meninggal Dunia :
Pelukis Barli Sasmitawinata meninggal pada Kamis 8 Februari 2007 sekitar pukul 16.25 di Rumah Sakit Advent, Bandung pada usia 86 tahun. Jenazah disemayamkan di Museum Barli, Jl. Sutami, Kota Bandung. Ia meninggalkan 2 anak kandung, 3 anak tiri, 15 cucu, dan 9 buyut. Setelah istri pertamanya, Atikah Basari (menikah 1946) meninggal tahun 1991, ia menikah lagi dengan Nakisbandiyah tahun 1992.
Menurut Hendra (32), Guru Gambar di Bale Seni Barli, Barli dibawa ke RS Advent pada hari ini pukul 9.00 karena muntah-muntah. Ia meninggal pada pukul 16.25 dan dibawa ke rumah duka pukul 17.30. Banyak kerabat yang berdatangan untuk melayat. Dimakamkan pada Jumat (9/2/2007) di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Sebelumnya Barli dirawat di rumah sakit selama sebulan karena sakit usia lanjut. Baru Minggu (4/2/2007) Barli pulang kembali ke rumahnya. Selama di rumah, Barli sempat beramanat agar keluarga besar Bale Seni Barli memelihara lembaga pendidikan seni tersebut.
Barli juga sempat melukis. Sehari sebelum meninggal ia masih meneruskan lukisannya di kamar. Lukisan yang belum selesai itu masih belum diberi judul.
Pengalaman Berpameran :
- 1991 Pameran Tunggal “70 Tahun Barli” di Braga Art Gallery Bandung
- 1990 Pameran “Hommage a Vincent Van Gogh” diselenggarakan oleh Perhimpunan Pusat Kebudayaan Indonesia – Perancis di Bandung
- 1990 Pameran bersama di Musium Jawa Barat, di Bandung
- 1990 Pameran Lukisan Seniman Bandung di Galeri Hidayat Bandung
- 1990 Pameran dan bursa lukisan di Mitra Budaya Jakarta
- 1990 Pameran bersama di Mon Decor Jakarta
- 1990 Pameran bersama di Edwin’s Gallery Jakarta
- 1990 Pameran bersama Papilio di Wisma Metropolitan diselenggarakan oleh Bank EXIM Jakarta
- 1989 Pameran bersama Simponi Dua Kota di Surabaya
- 1989 Pameran ber sama Papilio di Hotel Hyatt Arya Duta Jakarta
- 1989 Pameran Besar Pelukis Ternama Indonesia di Gedung Bentara Budaya Jakarta, diselenggarakan oleh KOMPAS
- 1989 Pameran bersama Agung Wiwekaputra diselenggarakan oleh Bank N.I.S.P di Bandung
- 1988 Pameran Indonesia – Perancis diselenggarakan oleh Perhimpunan Pusat Kebudayaan Indonesia – Perancis di Bandung
- 1988 Pameran “The First Asean Travelling Exhibition of Painting” di Brunai Darussalam, Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapore dan Thailand. Diselenggarakan oleh Pemerintah Republik Indonesia
- 1988 Pameran Tunggal di BUKOPIN Jakarta
- 1987 Pameran bersama Papilio dalam rangka Pekan Pariwisata Jawa Barat
- 1986 Pameran Besar bersama “Perjoangan dalam rangka menyambut HUT ABRI ke 41? di Bandung
- 1985 Pameran Besar “Tilam ka Tineung” untuk Gubernur Jawa Barat
- 1985 Pameran bersama Papilio di Mitra Budaya Jakarta
- 1985 Pameran Tunggal di Erasmus Huis Jakarta diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Belanda di Indonesia
- 1984 Pameran bersama Papilio di Erasmus Huis Jakarta
- 1984 Pameran Tunggal di ITB Bandung diselenggarakan oleh Jurusan Seni Rupa ITB
- 1984 Pameran Seni Lukis Indonesia di Galeri Jaya Ancol Jakarta
- 1983 Pameran bersama Pekan Raya Bandung – Braunsweig
- 1983 Pameran bersma tiga belas pelukis di UNPAD Bandung
- 1982 Pameran bersama Papilio di Bandung dan Jakarta
- 1981 Pameran Tunggal di Bandung
- 1981 Pameran besar L.S.I. ke dua di Bandung
- 1980 Pameran bersama Wisma Seni Nasional 1980 di Bandung
- 1979 Pameran besar L.S.I. di Bandung
- 1978 Pameran bersama kelompok lima Bandung (Affandi, Hendra Gunawan, Sudarso, Wahdi dan Barli) diselenggarakan oleh T.I.M. di Taman Ismail Marzuki
- 1978 Pameran di Australia bersama Studio Rangga Gempol
- 1975 Pameran reuni empat pelukis dari kelompok lima Bandung
- 1974 Pameran bersama di Taman Ismail Marzuki di Jakarta, diselenggarakan oleh T.I.M.
- 1953 Pameran bersama di Amsterdam, Bonn, Dusseldorf, Recklinghausen, Oslo, Moskow dan Leningrad diselenggarakan oleh Pemerintah Republik Indonesia
- 1953 Pameran tunggal di Amsterdam dan Recklinghausen
- 1951 Pameran bersama Affandi di London dan Brussel
- 1951 Pameran bersama di Washington D.C., New York, Colorado, Tennessee, Florida, Kentucky, Missouri dan Ohio Amerika Serikat
- 1951 Pameran tunggal di Washington D.C. Amerika Serikat
- 1947 Pameran lukisan dari front pertempuran Jawa Barat di Tasikmalaya, Magelang dan yogyakarta yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertahanan Republik Indonesia
- 1946 Pameran Perjoangan yang diselenggarakan oleh Kementerian Penerangan Republik Indonesia di Yogyakarta
- 1943 Pameran bersama di Bandung, Semarang, Jakarta dan Surabaya di selenggarakan oleh Keimin Bunka Sidosho Jakarta.
- 1937 Pameran bersama di Jaarbeurs di Bandung
- 1936 Pameran di Pekan Raya Surabaya
Gambar Lukisan Karya Seni Barli Sasmitawinata
![]() |
| A seated girl with a fruit basket - Gambar Lukisan Barli Sasmitawinata |
![]() |
| Affandi dengan Istri Pulang Melukis Pohon Apel - Gambar Lukisan Barli Sasmitawinata |
![]() |
| Fruit Saller - Gambar Lukisan Karya Seni Barli Sasmitawinata |
![]() |
| Gambar Lukisan Karya Seni Barli Sasmitawinata |
![]() |
| Ibu Tani - Gambar Lukisan Karya Seni Barli Sasmitawinata |
![]() |
| Bobotoh - Gambar Lukisan Karya Seni Barli Sasmitawinata |
![]() |
| Pasar - Gambar Lukisan Karya Seni Barli Sasmitawinata |
![]() |
| Dua Wanita - Gambar Lukisan Karya Seni Barli Sasmitawinata |
![]() |
| Gadis - Gambar Lukisan Karya Seni Barli Sasmitawinata |
![]() |
| Gambar Lukisan Karya Seni Barli Sasmitawinata |
![]() |
| Pantai Nude - Gambar Lukisan Karya Seni Barli Sasmitawinata |
![]() |
| Penari Kebyar - Gambar Lukisan Karya Seni Barli Sasmitawinata |
![]() |
| Penari Kipas 2 - Gambar Lukisan Karya Seni Barli Sasmitawinata |
Karya Lukisan S. Sudjojono Pantai Carita
Karya Lukisan S. Sudjojono sebagai salah satu Maestro pelukis indonesia memiliki karakter Goresan ekspresif dan sedikit bertekstur, goresan dan sapuan Cat diatas Kanvas bagai dituang begitu saja, Pada periode sebelum kemerdekaan, karya lukisan S.Sudjojono banyak bertema tentang semangat perjuangan rakyat Indonesia dalam mengusir penjajahan Belanda, namun setelah jaman kemerdekaan kemudian Karya Lukisan S. Sudjojono banyak bertema tentang pemandangan Alam, Bunga, aktifitas kehidupan masayarakat, dan cerita budaya. salah satu contoh dari Karya Lukisan S. Sudjojono yang pernah saya bagikan pada posting yang lalu yang berjudul penjual buah, dan yang saya bagikan dihadapan anda saat ini berjudul "Pantai Carita".
Tampaknya S. Sudjojono terpesona akan keindahan pantai Carita yang berpasir putih, keindahan dan pesona pantai carita telah menginspirasi Beliau untuk menciptakan sebuah karya seni tinggi, sebuah lukisan tentang keindahan yang ada dipantai Carita. Nampak dalam Karya Lukisan S. Sudjojono Pantai Carita objek-objek perahu layar, serta suasana keramaian dari para pengunjung / wisatawan yang sedang bermain, hanyut dalam kegembiraan diantara riak ombak kecil yang berpadu dengan keindahan pasir putih dan rindangnya pohon-pohon kelapa yang ada dipinggiran Pantai Carita tersebut.
Pantai Carita sendiri adalah sebuah pantai di pesisir barat provinsi Banten, Indonesia. Pantai ini merupakan obyek pariwisata pantai di Indonesia yang cukup terkenal selain Pantai Anyer, Pantai Karang Bolong dan Pantai Tanjung Lesung. Pantai Carita merupakan objek wisata yang terletak di Kabupaten Pandeglang, pantai ini terkenal dengan pasir pantainya yang putih sehingga membuat kawasan ini sering dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun dari mancanegara. Pantai Carita kaya akan sumber daya alamnya. Hamparan tepian yang amat landai dengan ombak laut yang kecil dan lembut menyapu di sepanjang pantai, dipadu dengan pemandangan Gunung Krakatau.
Pantai Carita sendiri adalah sebuah pantai di pesisir barat provinsi Banten, Indonesia. Pantai ini merupakan obyek pariwisata pantai di Indonesia yang cukup terkenal selain Pantai Anyer, Pantai Karang Bolong dan Pantai Tanjung Lesung. Pantai Carita merupakan objek wisata yang terletak di Kabupaten Pandeglang, pantai ini terkenal dengan pasir pantainya yang putih sehingga membuat kawasan ini sering dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun dari mancanegara. Pantai Carita kaya akan sumber daya alamnya. Hamparan tepian yang amat landai dengan ombak laut yang kecil dan lembut menyapu di sepanjang pantai, dipadu dengan pemandangan Gunung Krakatau.
Sementara S. Sudjojono sendiri lahir di Kisaran, Sumatera Utara pada tanggal 14 Desember 1913, dan wafat di Jakarta 25 Maret 1985. S. Sodjojono lahir dari keluarga transmigran asal Pulau Jawa. Ayahnya, Sindudarmo, adalah mantri kesehatan di perkebunan karet Kisaran, Sumatera Utara, beristrikan seorang buruh perkebunan. Ia lalu dijadikan anak angkat oleh seorang guru HIS, Yudhokusumo. Oleh bapak angkat inilah, Djon (nama panggilannya) diajak ke Jakarta (waktu itu masih bernama Batavia) pada tahun 1925. Ia menamatkan HIS di Jakarta, lalu melanjutkan SMP di Bandung, dan menyelesaikan SMA di Perguruan Taman Siswa di Yogyakarta. Di Yogyakarta itulah ia sempat belajar montir sebelum belajar melukis kepada R.M. Pringadie selama beberapa bulan. Sewaktu di Jakarta, ia belajar kepada pelukis Jepang, Chioji Yazaki.
Eugene Delacroix
![]() |
| Eugene Delacroix Self Portrait |
Biography :
Eugene Delacroix lahir di Charenton (Saint-Maurice), Val de Marne departement, dekat Paris, Perancis. Pendidikan awalnya di Lycee Louis-le-Grand, di mana ia mendalami dirinya dalam klasik dan memenangkan penghargaan untuk menggambar. Pada tahun 1815 ia mulai pelatihan dengan Pierre-Narcisse Guerin dalam gaya neoklasik Jacques-Louis David. Sebuah komisi gereja mula-mula karyanya, The Virgin of Panen, (1819), menampilkan pengaruh Raphaelesque, tapi lain komisi tersebut, The Virgin of the Sacred Heart, (1821), bukti interpretasi bebas. Ini mendahului pengaruh gaya lebih berwarna dan kaya pelukis Peter Paul Rubens Flemish (1577-1640), dan sesama seniman Perancis Theodore Gericault (1791-1824), yang karya-karyanya ditandai pengenalan Romantisme dalam seni.
Ada alasan untuk percaya bahwa ayahnya, Charles Delacroix, adalah terhormat pada saat konsepsi Eugene dan bahwa ayah kandungnya adalah Talleyrand, yang merupakan teman dari keluarga dan penerus C. Delacroix sebagai menteri urusan luar negeri. Sepanjang karirnya sebagai pelukis, ia dilindungi oleh Talleyrand, yang menjabat restorasi berturut-turut dari Raja Louis-Philippe, dan akhirnya sebagai duta Prancis di Inggris, dan kemudian oleh cucu Talleyrand, adipati Morny, saudara tiri Napoleon III dan pembicara dari rumah Perancis commons.
Perjalanan Karir :
Eugene Delacroix banyak mendapat pengaruh dari Theodore Gericault serta inspirasi dari Rubens. Berlawanan dengan Jean Auguste Dominique Ingres, Delacroix mengutamakan warna dan goresan yang kuas sebagai ciri khas lukisannya yang penuh emosi. Beberapa karya Delacroix menjunjung nilai-nilai sesuai dengan isu-isu politik pada zamannya. Adegan seperti dalam The Masacre at Chios (1821-1824) mendorong simpati bangsa Yunani dalam perang kemerdekaan melawan Turki. Karya Delacroix Liberty Leading the People (1830) mendukung semangat Revolusi Perancis pada tahun 1830.
Dampak lukisan Theodore Gericault Raft of the Medusa sangat mendalam, dan merangsang Delacroix untuk menghasilkan lukisan besar pertamanya, The Barque dari Dante, yang diterima oleh Salon Paris pada tahun 1822. Pekerjaan menimbulkan sensasi, dan sebagian besar dicemooh oleh masyarakat dan pejabat, namun dibeli oleh negara untuk Galeri Luksemburg, pola oposisi luas untuk karyanya, dimentahkan oleh dukungan, kuat tercerahkan, akan terus sepanjang hidupnya. Dua tahun kemudian ia kembali meraih sukses populer untuk Pembantaian nya di Chios.
Banyak karya Delacroix yang lain mendapat inspirasi dari karya sastra. Karya Delacroix Death of Sardanapalus (1827) didasarkan pada puisi karya Lord Byron. Puisi ini mengisahkan seorang raja Asiria yang memutuskan untuk bunuh diri dan menyuruh agar semua harta bendanya dimusnahkan, dari pada jatuh ke tangan musuh yang akan menyerbunya. Dari tempat tidur kematiannya Sardanapalus menyaksikan sendiri gundiknya dan kuda-kudanya dibunuh saat berjuang membela diri. Pelukis Romantik menyukai tema-tema yang mengandung sensualitas dan kejahatan. Ungkapan kekerasan yang mencolok ditekankan dengan pencahayaan yang dramatis, warna emotif, goresan kuas yang ekspresif, dan gerakan figur-figur yang membentuk komposisi diagonal.
Dampak lukisan Theodore Gericault Raft of the Medusa sangat mendalam, dan merangsang Delacroix untuk menghasilkan lukisan besar pertamanya, The Barque dari Dante, yang diterima oleh Salon Paris pada tahun 1822. Pekerjaan menimbulkan sensasi, dan sebagian besar dicemooh oleh masyarakat dan pejabat, namun dibeli oleh negara untuk Galeri Luksemburg, pola oposisi luas untuk karyanya, dimentahkan oleh dukungan, kuat tercerahkan, akan terus sepanjang hidupnya. Dua tahun kemudian ia kembali meraih sukses populer untuk Pembantaian nya di Chios.
Banyak karya Delacroix yang lain mendapat inspirasi dari karya sastra. Karya Delacroix Death of Sardanapalus (1827) didasarkan pada puisi karya Lord Byron. Puisi ini mengisahkan seorang raja Asiria yang memutuskan untuk bunuh diri dan menyuruh agar semua harta bendanya dimusnahkan, dari pada jatuh ke tangan musuh yang akan menyerbunya. Dari tempat tidur kematiannya Sardanapalus menyaksikan sendiri gundiknya dan kuda-kudanya dibunuh saat berjuang membela diri. Pelukis Romantik menyukai tema-tema yang mengandung sensualitas dan kejahatan. Ungkapan kekerasan yang mencolok ditekankan dengan pencahayaan yang dramatis, warna emotif, goresan kuas yang ekspresif, dan gerakan figur-figur yang membentuk komposisi diagonal.
Kematangan
Lukisan Delacroix tentang Pembantaian di Chios (juga disebut Pembantaian di Scio, Perancis: Scenes des pembantaian de Scio), menunjukkan sakit, warga sipil Yunani sekarat akan dibantai oleh Turki. Salah satu dari beberapa lukisan yang dibuatnya secara kontemporer, itu mengungkapkan simpati penyebab Yunani dalam perang kemerdekaan mereka melawan Turki, sentimen populer pada saat itu bagi rakyat Prancis. Delacroix segera diakui sebagai pelukis terkemuka dalam gaya romantis baru, dan gambar itu dibeli oleh negara. Penggambaran penderitaan itu kontroversial Namun, karena tidak ada peristiwa yang luar biasa terjadi, tidak ada patriot meningkatkan pedang mereka dalam keberanian seperti dalam Sumpah Daud dari Horatii, hanya bencana. Banyak kritikus menyesalkan nada putus asa lukisan itu, artis-Antoine Jean Gros menyebutnya "pembantaian seni". The pathos dalam penggambaran bayi mencengkeram payudara ibu mati-nya memiliki efek sangat kuat, meskipun detail ini dikecam sebagai tidak layak untuk seni oleh kritikus Delacroix ini. Sebuah tampilan lukisan John Constable diminta Delacroix untuk membuat ekstensif, perubahan bebas dicat ke langit dan lanskap jauh.Delacroix menghasilkan lukisan kedua ( Yunani pada reruntuhan Missolonghi ) dalam mendukung Yunani dalam perang mereka untuk kemerdekaan, kali ini mengacu pada penangkapan Missolonghi oleh pasukan Turki pada tahun 1825. Dengan menahan diri dari palet sesuai dengan alegori, Yunani Kedaluwarsa pada reruntuhan Missolonghi menampilkan seorang wanita dalam kostum Yunani dengan memamerkan dadanya, lengan setengah terangkat dalam gerakan memohon sebelum adegan mengerikan: bunuh diri dari orang-orang Yunani, yang memilih untuk bunuh diri dan menghancurkan kota mereka daripada menyerah kepada Turki. Sebuah tangan terlihat di bagian bawah, tubuh memiliki yang dihancurkan oleh puing-puing. Seluruh gambar berfungsi sebagai monumen bagi masyarakat Missolonghi dan gagasan kebebasan melawan kekuasaan tirani. Acara ini menarik Delacroix tidak hanya untuk simpati dengan orang-orang Yunani, tetapi juga karena Byron penyair, yang Delacroix sangat dikagumi, dan telah meninggal di sana.
Romantisisme
Sebuah perjalanan ke Inggris pada tahun 1825 meliputi kunjungan ke Thomas Lawrence dan Richard Bonington, warna dan penanganan lukisan bahasa Inggris memberikan dorongan hanya potret full-length, elegan Portrait of Louis-Auguste Schwiter , (1826-1830). Pada sekitar waktu yang sama, Delacroix menciptakan karya romantisme berbagai tema, banyak yang akan terus menarik baginya selama lebih dari tiga puluh tahun. Pada 1825 ia telah memproduksi litograf menggambarkan Shakespeare, dan tidak lama kemudian litograf dan lukisan dari Faust Goethe . Lukisan seperti the battle of giaour and hassan (1826), dan Wanita dengan burung beo, (1827) , memperkenalkan subyek kekerasan dan sensualitas yang akan membuktikan untuk menjadi berulang.Untaian romantis berbagai berkumpul dalam Kematian Sardanapalus, (1.827-8) . Lukisan Delacroix tentang kematian raja Asyur Sardanapalus menunjukkan adegan emosional aduk hidup dengan warna-warna yang indah, kostum eksotis dan peristiwa tragis. Kematian Sardanapalus menggambarkan raja dikepung menonton tanpa ekspresi sebagai penjaga melaksanakan perintahnya untuk membunuh hambanya, selir dan hewan. Sumber sastra adalah plesetan oleh Byron, meskipun bermain tidak secara khusus menyebut pembantaian selir.
![]() |
| The death of Sardanapalus |
Sikap Sardanapalus detasemen tenang adalah familiar berpose di citra romantis di periode ini di Eropa. Lukisan, yang tidak dipamerkan lagi selama bertahun-tahun sesudahnya, telah dianggap oleh beberapa kritikus sebagai fantasi mengerikan yang melibatkan kematian dan nafsu. Terutama mengejutkan adalah perjuangan seorang wanita telanjang yang tenggorokan akan segera dipotong, adegan ditempatkan mencolok di latar depan untuk pengaruh maksimal. Namun, keindahan sensual dan eksotis warna komposisi membuat gambar tampak menyenangkan dan mengejutkan pada saat yang sama.
Berbagai kepentingan Romantic yang lagi disintesis dalam Pembunuhan Uskup Liege, (1829). Hal ini juga meminjam dari sumber sastra, kali ini Scott, dan menggambarkan sebuah adegan dari Abad Pertengahan, yaitu pembunuhan Bourbon de Louis, Uskup Liege di tengah-tengah pesta yang disponsori oleh penculiknya, William de la Marck. Terletak di interior berkubah besar yang Delacroix berdasarkan sketsa dari Palais de Justice di Rouen dan Westminster Hall, drama bermain keluar di chiaroscuro, diorganisir sekitar bentangan terang benderang dari taplak meja. Pada tahun 1855 seorang kritikus menggambarkan penanganan bersemangat lukisan sebagai "Kurang selesai dari sebuah lukisan, lebih selesai dari sketsa, Pembunuhan Uskup Liege ditinggalkan oleh pelukis pada saat tertinggi ketika satu lagi stroke sikat akan merusak segalanya".
Liberty Memimpin Rakyat
Karya Delacroix yang paling berpengaruh datang pada tahun 1830 dengan lukisan Liberty Memimpin Rakyat, yang untuk pilihan subjek dan teknik menyoroti perbedaan antara pendekatan romantis dan gaya neoklasik. Mungkin terbaik lukisan terkenal Delacroix, itu adalah gambar yang tak terlupakan dari Paris, setelah mengangkat senjata, berbaris maju di bawah bendera triwarna mewakili kebebasan dan kebebasan, Delacroix terinspirasi oleh peristiwa kontemporer untuk memohon gambar romantis semangat kebebasan. Para prajurit tergeletak mati di latar depan menawarkan tandingan pedih untuk sosok perempuan simbolik, yang diterangi penuh kemenangan, seolah-olah dalam sorotan.![]() |
| The Liberty Leading The People |
Setelah Revolusi tahun 1848 yang melihat akhir dari masa pemerintahan Raja Louis Philippe, lukisan Delacroix ', Liberty Leading Rakyat, akhirnya dipajang oleh Presiden yang baru terpilih, Louis Napoleon (Napoleon III.) Hari ini, terlihat di museum Louvre.
Anak laki-laki memegang pistol di sebelah kanan kadang-kadang dianggap menjadi inspirasi dari karakter Gavroche tahun 1862 Novel Victor Hugo, Les Miserables.
Perjalanan ke Afrika Utara
Pada 1832, ia pergi ke Spanyol dan Afrika Utara, sebagai bagian dari misi diplomatik ke Maroko lama setelah Aljazair menaklukkan Perancis. Dia pergi tidak terutama untuk belajar seni, tetapi untuk melarikan diri dari peradaban Paris, dengan harapan untuk melihat kebudayaan yang lebih primitif. Dia akhirnya menghasilkan lebih dari 100 lukisan dan gambar adegan dari atau didasarkan pada kehidupan rakyat Afrika Utara, dan menambahkan bab baru dan pribadi untuk kepentingan di Orientalisme. Delacroix terpesona oleh rakyat dan kostum, dan perjalanan akan menginformasikan subyek banyak sekali lukisan masa depannya. Dia percaya bahwa Afrika Utara, dalam pakaian mereka dan sikap mereka, memberikan setara visual untuk rakyat Klasik Roma dan Yunani.Ia berhasil membuat sketsa beberapa wanita diam-diam di Algiers, seperti dalam lukisan Perempuan Algiers di Apartemen mereka (1834) , tetapi umumnya ia mengalami kesulitan dalam mencari perempuan Muslim untuk berpose untuknya karena aturan Islam mensyaratkan bahwa perempuan harus ditutupi. Kurang problematis adalah lukisan perempuan Yahudi di Afrika Utara, sebagai subyek untuk pernikahan Yahudi di Maroko (1837-1841).
![]() |
| Sketch The death of Sardanapalus |
Sementara di Tangier ia membuat sketsa banyak orang dan kota, subyek yang ia akan kembali sampai akhir hidupnya. Hewan - perwujudan gairah romantis - yang dimasukkan ke dalam lukisan seperti Kuda Arab Pertempuran di (1860) Stabil , The Berburu Singa (yang terdapat banyak versi, dicat antara 1856 dan 1861), dan Arab Saddling Kuda nya ( 1855) .
Mural dan kemudian hari
Pada tahun 1838 Delacroix dipamerkan Medea akan Membunuh Anak-Nya , yang menciptakan sensasi di Salon. Pertama skala besar pengobatan adegan dari mitologi Yunani, lukisan itu menggambarkan Medea mencengkeram anak-anaknya, belati ditarik membunuh mereka dalam pembalasan untuk meninggalkan nya oleh Jason. Tiga angka nude membentuk piramida animasi, bermandikan cahaya menyapu yang menembus gua yang Medea telah tersembunyi. Meskipun lukisan itu dengan cepat dibeli oleh Negara, Delacroix kecewa ketika dikirim ke Lille Musee des Beaux-Arts, ia berniat untuk itu untuk menggantung di Luksemburg, di mana ia akan bergabung dengan The Barque dari Dante dan Adegan dari Pembantaian dari Chios .![]() |
| Medea |
Potret diri, 1837 . "Eugène Delacroix adalah campuran penasaran skeptisisme, pesolekan kesopanan,, kemauan, kepandaian, despotisme, dan akhirnya, semacam kebaikan khusus dan kelembutan yang selalu menyertai jenius".
Dari 1.833 Delacroix menerima komisi banyak untuk menghias gedung-gedung publik di Paris. Pada tahun itu ia mulai bekerja untuk Salon du Roi di Chambre des Deputes, Palais Bourbon, yang tidak selesai sampai 1837. Selama sepuluh tahun berikutnya ia melukis di kedua perpustakaan di Palais Bourbon dan Perpustakaan di Palais du Luxembourg. Pada 1843 ia dihiasi Gereja St Sacrement du Denis Saint dengan Pietà yang besar, dan 1848-1850 ia melukis langit-langit di Galerie d'Apollon dari Louvre. Dari 1857-1861 ia bekerja di Chapelle des Agnes di St Sulpice. Komisi ini menawarinya kesempatan untuk menulis dalam skala besar dalam pengaturan arsitektur, sebanyak yang telah ia mengagumi empu, Paolo Veronese, Tintoretto, dan Rubens.
Pekerjaan itu melelahkan, dan selama bertahun-tahun ia menderita konstitusi semakin rapuh. Selain rumahnya di Paris, dari 1844 ia juga tinggal di sebuah pondok kecil di Champrosay, di mana ia menemukan tangguh di pedesaan. Dari 1834 sampai kematiannya, ia setia dirawat oleh pengurus rumah tangganya, Jeanne-Marie le Guillou , yang rajin menjaga privasinya, dan yang berkepanjangan pengabdian hidupnya dan kemampuannya untuk terus bekerja di tahun kemudian.
Pada 1862 Delacroix berpartisipasi dalam penciptaan Societe Nationale des Beaux-Arts. Temannya, Theophile Gautier penulis, menjadi ketua, dengan Millet pelukis Aime bertindak sebagai wakil ketua. Selain Delacroix, komite itu terdiri dari para pelukis Carrier-Belleuse dan de Puvis Chavannes. Di antara peserta pameran adalah Leon Bonnat, Jean-Baptiste Carpeaux, Charles-François Daubigny, Gustave Dore, dan Edouard Manet. Hanya setelah kematiannya pada tahun 1863, masyarakat menyelenggarakan pameran retrospektif dari 248 lukisan dan litograf oleh Delacroix-dan berhenti me-mount pameran lanjut.
Eugene Delacroix meninggal di Paris, Perancis dan dikuburkan di Pere Lachaise. Rumahnya, sebelumnya terletak di sepanjang kanal Marne, kini dekat pintu keluar jalan tol yang mengarah dari Paris ke Jerman Tengah.
Eugene Delacroix Painting :
![]() |
| A Mortally wounded brigand quenches his thirst |
![]() |
| Cleopatra and the peasant |
![]() |
| Dante and Virgil in the Underworld |
![]() |
| fanatic of tangier |
![]() |
| Moroccan horsemen in military action |
![]() |
| Odalisque |
![]() |
| Scenes from the Massacre of Chios |
![]() |
| The abduction of Rebecca |
![]() |
| The battle of taillebourg |
![]() |
| The bride of abydos |
![]() |
| The Crusaders entry into constantinopel |
![]() |
| The death of Ophelia |
![]() |
| The Prisoner of Chillon |
![]() |
| The shipwreck of don juan |
![]() |
| The women of algiers |
![]() |
| Two knights fight in a landscape |
Karya dan Biografi Leonardo Da Vinci
Leonardo Da Vinci dilahirkan di Vinci, propinsi Firenze, Italia, 15 April 1452 – meninggal di Clos Luce, Perancis, pada tanggal 2 Mei 1519 tepatnya waktu Leonardo Davinci berumur 67 tahun. Leonardo Da Vinci merupakan anak dari Ser Piero Da Vinci dan Caterina. Ia memiliki nama lengkap Leonardo di Ser Piero da Vinci yang berarti Leonardo putra Ser Piero dari kota Vinci. Dia adalah seorang arsitek, musisi, penulis, pematung, dan pelukis zaman Renaisans di Italia. Ia digambarkan sebagai arketipe "manusia renaisans" dan sebagai manusia genius universal.
Leonardo Da Vinci terkenal karena lukisannya yang piawai, seperti Jamuan Terakhir dan Mona Lisa. Ia juga dikenal karena mendesain banyak ciptaan yang mengantisipasi teknologi modern tetapi jarang dibuat semasa hidupnya, sebagai contoh ide-idenya tentang tank dan mobil yang dituangkannya lewat gambar-gambar dwiwarna. Selain itu, ia juga turut memajukan ilmu anatomi, astronomi, dan teknik sipil bahkan kuliner.
Pada usia belia, Leonardo Da Vinci sudah belajar melukis dengan Andrea del Verrocchio dan mulai melukis di Firenze. Ada kabar mengisahkan Verrochio menyatakan pensiun melukis setelah menyaksikan bahwa lukisan muridnya yang satu ini lebih bagus dari lukisannya sendiri. Selain menjadi pelukis, Leonardo Da Vinci juga sanggup menunjukkan kemampuannya di bidang yang lain.
Pada tahun 1481 Leonardo Da Vinci pindah ke Milan untuk bekerja dengan Adipati (Duke) di sana. Hasil karyanya selama di Milan yang paling termashur adalah Kuda Sforza yang dikerjakannya selama kurang lebih 11 tahun. Namun di situ ia tidak hanya melukis dan membuat patung saja, melainkan juga mengubah jalan-jalan sungai dan membangun kanal-kanal, serta menghibur Duke dengan memainkan lut dan bernyanyi. Lalu ia bekerja untuk Raja Louis XII dari Perancis di Milan dan untuk Paus Leo X di Roma.
Sementara itu ia membantu Raphael dan Michaelangelo dalam merancang katedral Santo Petrus. Dalam hidupnya Leonardo sangat tertarik pada ilmu pengetahuan. Ia mulai mempelajari burung terbang dan mulai merancang mesin terbang. Pemikirannya itu terdapat dalam buku catatanya sebanyak 7.000 halaman.
Di dalam buku itu juga terdapat sketsa tentang studi tubuh manusia. Pada zaman itu, anatomi tubuh manusia tak lebih dari sekadar kira-kira karena siapapun dilarang keras membedah jenazah. Dengan kenekatannya mencuri-curi kesempatan membedah-bedah tubuh orang mati, di kemudian hari tindakan yang tak lazim di zamannya ini memberikan kontribusi yang sangat besar bagi dunia kedokteran.
Maha karyanya, Jamuan Terakhir (The Last Supper) pada tahun 1495 sampai tahun 1497 yang dilukis pada dinding biara Santa Maria di Milan, kini telah rusak akibat dimakan waktu. Lukisan terkenal lainnya adalah Mona Lisa yang kini terdapat di musium Louvre Paris.
Sebuah spekulasi yang beredar tentang siapa sesungguhnya Mona Lisa antara lain menyatakan bahwa citra perempuan tersebut merupakan hasil rekaan wajah Da Vinci sendiri. Spekulasi yang lain menyatakan bahwa perempuan tersebut memang pernah ada, seorang istri pedagang.
Leonardo da Vinci wafat di Clos Luce, Perancis pada tanggal 2 Mei 1519, dan dimakamkan di Kapel St. Hubert di kastel Amboise, Perancis.
Setelah meninggal dunianya, sangat kuat ditengarai bahwa Leonardo pernah memegang peranan sebagai orang terkuat di sebuah organisasi rahasia bernama Priory of Sion yang berlaskarkan Knights Templar. Apakah organisasi rahasia ini? Banyak fakta mengarahkan pada suatu dugaan bahwa Priory of Sion merupakan sebuah organisasi yang menjaga ketat-ketat rahasia sejarah kristiani menurut versi yang berbeda dari kitab Injil yang beredar di masyarakat. Yang dirahasiakan adalah mengenai siapa mesias yang sesungguhnya dan kemungkinan Yesus tidak menjalankan hukum selibat.
Dalam versi yang sempat menimbulkan kontroversi ini diyakini bahwa Mesias yang sesungguhnya adalah Santo Yohanes Pembaptis, hal tersebut tersirat dari kekerapan Da Vinci melukis Sang Santo dalam posisi telunjuk menuding ke atas sebagai simbolisasi 'Putra Allah'.
Versi yang tak kalah mengagetkannya adalah kemungkinan Maria Magdalena si bekas perempuan pelacur diperistri oleh Yesus. Namun semua hal tersebut tidak terbukti kebenarannya, hingga saat ini, sehingga tudingan ini hanya dianggap sebagai langkah untuk memojokkan posisi umat Kristiani.
Lukisan tidak saja mencerminkan luarnya benda, pendapat Da Vinci: yang dimaksud dengan Seni lukis adalah segala sesuatu yang terkandung di dalamnya, yang dasarnya alami dan tidak dapat dilihat oleh mata telanjang manusia, lalu diekspresikan dalam bentuk gambar.
Menurut Leonardo Da Vinci, Ilmu pengetahuan dan seni lukis ada hubungannya, misalnya gambar manusia, dia pernah melakukan sebuah percobaan (membedah mayat agar dapat mengerti anatomi tubuh manusia).
Sehingga dalam lukisannya, dia selalu dengan tepat menangkap gerakan otot di bawah lapisan kulit, maka hasil lukisannya sangat halus, dan cermat, contohnya: sketsa tangannya yang masih tersimpan hingga kini, setiap goresannya sangat indah, goresan penanya juga jelas, hal ini jarang dijumpai pada saat itu. Terutama pada bagian mata dan rambut, tidak saja lembut, juga mengandung suatu daya tarik. Ini menunjukan kematangan, kemampuan lukis tingkat tinggi.
Meskipun Leonardo Da Vinci adalah ilmuwan yang luar biasa, tapi pada dasarnya, dia masih tetap milik dunia seni. Dia memadukan ilmu dengan seni, dan tidak karena mengejar kebenaranilmu lalu melupakan keindahan.
Saat itu banyak seniman yang menggemari teknik gambar nyata. Orang - orang ini meski bisa dengan tepat menggambar bentuk dari bagian sesuatu, namun melupakan segi keindahan yang utuh. Sehingga memberi kesan rumit. Pada kenyataannya, perkembangan seni di zaman pemulihan budaya, perpaduan antara sifat nyata dan mempertahankan keindahan menyeluruh secara untuh, hanya Da Vinci yang paling menonjol.
Meski sepanjang hidup Leonardo Da Vinci tak henti - hentinya mengejar kemauan dan tak pernah mengenal puas, sehingga meninggalkan setumpuk sketsa, namun karya yang benar - benar selesai tidaklah banyak, hal ini amat disayangkan bagi sang genius dan bagi dunia seni.
Langganan:
Postingan (Atom)



























































