-
Tampilkan postingan dengan label LPIS. Tampilkan semua postingan
LPIS Pasrahkan Nasib IPL ke PSSI
![]() |
| Widjajanto - NET |
Atas rencana itu, CEO PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS), Widjadjanto, mengaku pasrah. Menurutnya, LPIS memang bukan pemilik liga tapi sebagai pelaksana.
"Kami bukan pemilik liga, jika mandat dicabut kami akan menghormati," kata Widjadjanto saat ditemui di Hotel The Sultan Jakarta, Rabu (2/10).
Meski demikian, ia berharap PSSI akan menghormati langkah hukum yang diambil oleh beberapa klub IPL, seperti Persebaya 1927 dan Arema IPL. LPIS menyatakan akan memberi bantuan hukum.
"Untuk proses hukum PSSI juga akan menghormati. Kami dari LPIS akan memberikan asistensi hukum," ungkapnya. (jawapos)
LPIS: Buktikan Persebaya di Legal Formal
![]() |
| Widjayanto - NET |
Faktor historis masih dikedepankan oleh manajemen Persebaya 1927 yang dikomandani Cholid Ghoromah. Namun, keputusan dalam Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI yang diselenggarakan di Hotel Borobudur, Jakarta, 17 Maret lalu bisa mementahkan klaim Persebaya 1927. Di situ, justru Persebaya di ISL saat inilah yang asli.
"Hanya satu yang bisa dilakukan Persebaya untuk mendapatkan kembali hak di kompetisi, membuktikannya dari aspek legal formal. Kan aspek itu yang menjadi landasan PSSI untuk menentukan keabsahan klub di kompetisi musim depan. Kami yakin merekalah yang asli," ujar Managing Director PT Liga Prima Indonesia Sportindo (PT LPIS), operator yang menaungi IPL, Didied Poernawan Affandy, tadi malam.
PT LPIS mempertanyakan sikap PSSI yang tidak berkoordinasi dulu terkait dengan pencoretan Persebaya 1927 dan Arema IPL. Pun demikian format kompetisi baru yang mengakomodir cuma 11 klub IPL. Menurut Didied, yang bisa menyatakan Persebaya 1927 dan Arema IPL dicoret itu bukan PSSI atau Exco, melainkan Komisi Disiplin.
Sebab, itu sama seperti yang dialami oleh ketiga klub lainnya, Persibo Bojonegoro, Persija IPL, dan Persema Malang. "Yang jelas kalau sudah berbicara soal legal formal, ini sudah masuk ke dalam ranah hukum. Bukan lagi PT LPIS ataupun federasi dalam hal ini PSSI. Biarlah nanti yang jadi penentunya adalah pengadilan," ungkapnya.
Hal yang senada juga diungkapkan oleh CEO LPIS, Widjajanto. Menurut Widja, berbekal dari keputusan Kongres yang menyerukan kompetisi, baik ISL dan IPL, harus diselenggarakan hingga berakhir. Kedua kompetisi itu jelas masih diakui dan berada di bawah PSSI, demikian juga dengan status keanggotaannya.
"Coba dicek saja di dalam situs FIFA, yang ada hanyalah Persebaya yang sekarang bermain di IPL. Dengan adanya keputusan meniadakan Persebaya ataupun Arema di dalam proses unifikasi, kami menilai ada sejumlah pihak yang kontra-produktif dengan semangat unifikasi itu sendiri," jelasnya.
Lebih lanjut, Widja berharap kompetisi IPL bisa tetap dilanjutkan. Bukan untuk kepentingan dari pihaknya, melainkan untuk mendukung upaya unifikasi liga itu sendiri. "Seharusnya dilihat dulu sampai ada empat besarnya. Kalau tiba-tiba mencoret klub seperti ini, lalu buat apa ada posisi empat besar itu?," tandasnya. (JAWAPOS)
Hinca : PT LPIS Sudah Tidak Mampu Kelola IPL
![]() |
| Hinca Panjaitan - NET |
"Sebenarnya putusan sudah diambil sejak pekan lalu. LPIS dianggap tidak bisa menjalankan kompetisi. Maka dari itu kami limpahkan langsung kepada Exco," kata Ketua Komdis, Hinca Panjaitan, Jumat 27 September 2013.
Sebelumnya, pihak Komdis sudah meminta LPIS mengatur jadwal baru, klasemen, hingga peserta IPL dan Divisi Utama. Instruksi ini diberikan mengingat beberapa tim sudah didiskualifikasi. Namun, hingga kini permintaan Komdis tidak kunjung terlaksana.
"Kami menilai mereka sudah tidak bisa menjalankan kompetisi. Padahal, LPIS sudah diberi kewenangan menjalankan kompetisi oleh Exco. Nasib mereka akan ditentukan dalam rapat Exco, Sabtu besok," beber Hinca.
"Nah, dari situ, kami akan tahu ke mana arahnya format unifikasi liga pada 2014 mendatang," sambungnya. Rapat Exco yang dimaksud Hinca akan digelar di Hotel Sultan, Sabtu, 28 September 2013.
Terpisah, Direktur PT Kabau Sirah Semen Padang, Erizal Anwar, berharap agar IPL dihentikan. Dia menilai pelaksanaan kompetisi sudah tidak sehat dan tidak memiliki masa depan yang jelas.
"Lebih baik berhenti, jika tetap dijalankan hanya akan menghabiskan uang. Katanya kompetisi akan selesai Desember 2014. Kalau kondisinya seperti itu, tim tidak punya persiapan dan pemain kapan liburnya? Kompetisi baru kan mulai 2014," kata Erizal. (viva)
Langganan:
Postingan (Atom)



